home Others Hindari Kesalahan Berikut Saat Mengisi E-Filling

Hindari Kesalahan Berikut Saat Mengisi E-Filling

Setiap warga negara Indonesia yang memiliki penghasilan di atas 4.5 juta rupiah per bulan, wajib untuk membayar pajak. Jikapun Anda memiliki NPWP dan masih aktif, walaupun gaji Anda tidak sampai 4,5 juta per bulan, Anda tetap wajib mengisi SPT.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, pengisian Surat pemberitahuan tahunan untuk pajak bisa dilakukan secara online. Lewat E-filling ini, Anda bisa lapor wajib pajak tanpa perlu ke kantor pajak.

Namun, dalam pengisian SPT tahunan lewat e-filling terutama oleh pemula, masih banyak kesalahan seperti ini dilakukan.

  1.       Salah Menggunakan Formulir

Untuk pembayaran pajak, anda harus menyesuaikan jenis pajak dengan formulirnya. Salah dalam penggunaan formulir akan membuat proses pelaporan pajak tidak selesai.

  • Formulir untuk SPT Tahunan pribadi dibagi menjadi 3 berdasarkan pada jumlah penghasilan tahunan Anda. Formulir tersebut yaitu:
  • 1770: untuk pelaporan pajak pribadi dengan sumber penghasilan yang berasal dari usaha dan atau dari pekerjaan bebas.
  • 1770S: untuk wajib pajak yang mempunyai penghasilan total per tahun lebih dari 60 juta.
  • 1770SS: untuk wajib pajak yang memiliki penghasilan kurang dari Rp 60 juta per tahunnya.
e-filling
e-filling. pic: liveOlive.com
  1.       Nomor NPWP Salah

Saat mengisi e-filling, Anda harus menuliskan nomor NPWP Anda terlebih dahulu. Namun, pastikan bahwa NPWP yang Anda masukkan adalah NPWP Pribadi dan bukan perusahaan. ini karena banyak orang yang mengisi dengan NPWP Perusahaan ataupun nomor NPWP yang salah.

  1.       Penggunaan Email yang Salah

Sama halnya dengan salah memasukkan nomor NPWP dengan NPWP perusahaan, pengisian E-filing untuk SPT Tahunan pribadi jelas harus menggunakan email pribadi. Email tersebut adalah email yang Anda daftarkan saat ingin mendapatkan EFIN. Jika Anda belum memilikinya, maka Anda harus ke kantor pelayanan pajak terlebih dahulu. Kemudian sertakan alamat email, KTP, NPWP dan syarat yang sudah ditentukan KPP.

Kenapa harus email pribadi? Karena nantika DJP akan mengirimkan informasi misalnya berita terbaru terkait pajak ke email tersebut. Jika Anda menggunakan email kantor, dan kemudian Anda resign, Anda harus kembali mengurus EFIN untuk akses yang baru.

  1.       Tidak Melaporkan Penghasilan Lainnya

Ada banyak wajib pajak yang memiliki penghasilan lebih dari 1 sumber. Sayangnya, yang dilaporkan di SPT tahunan hanya dari 1 sumber, misalnya dari gaji menjadi pegawai perusahaan swasta. Padahal di sisi lain, ia juga merupakan seorang pengusaha yang omsetnya bisa mencapai 20 jutaan rupiah per bulannya.

Jika Anda tidak tahu, ada baiknya untuk menanyakannya lebih dahulu ke pihak pajak. Ini karena jika tidak dilaporkan, Anda akan dikenai sanksi sesuai dengan pasal 13 ayat 2 UU KUP. Dalam undang-undang tersebut, Anda akan mendapatkan sanksi administrasi 2% untuk maksimal 2 tahun kekurangan pajak yang tidak dibayarkan.

Jadi, selain harus memperhatikan nominal penghasilan, pastikan kesalahan di atas tidak terjadi ya. Jikapun terjadi kesalahan, ada baiknya langsung menghubungi pihak kantor pajak untuk pembetulan data.